{"id":39356,"date":"2026-10-30T08:22:51","date_gmt":"2026-10-30T08:22:51","guid":{"rendered":"https:\/\/landesaindonesia.org\/?p=39356"},"modified":"2026-10-30T08:32:16","modified_gmt":"2026-10-30T08:32:16","slug":"tenure-system-with-gender-perspective-food-security-and-mangrove-ecosystem-protection-in-nagekeo-and-ngada-districts-east-nusa-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/tenure-system-with-gender-perspective-food-security-and-mangrove-ecosystem-protection-in-nagekeo-and-ngada-districts-east-nusa-tenggara\/","title":{"rendered":"Sistem Tenure Berperspektif Gender, Ketahanan Pangan dan Perlindungan Ekosistem Mangrove di Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Nusa Tenggara Timur"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"39356\" class=\"elementor elementor-39356\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-37a54d78 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"37a54d78\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-no\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-2f61e95c\" data-id=\"2f61e95c\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-44c977b0 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"44c977b0\" data-element_type=\"widget\" data-no-translation=\"\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<style>.elementor-element-44c977b0{display:none !important}<\/style>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f14e52f elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"f14e52f\" data-element_type=\"widget\" data-no-translation=\"\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p data-start=\"59\" data-end=\"710\">Tata kelola akses, kontrol, dan kepemilikan lahan dipengaruhi oleh hubungan sosial, termasuk relasi gender. Hal ini menyiratkan bahwa perspektif gender dan inklusi sosial (GESI) sangat penting dalam memahami hak dan pengelolaan lahan dan sumber daya alam. Di Indonesia, gender dan relasi sosial lainnya (misalnya etnisitas, kelas sosial ekonomi, kelas sosial, usia, agama, status perkawinan) beroperasi dalam tata kelola lahan dan sumber daya alam yang berbeda namun saling terkait, mulai dari keluarga inti, keluarga besar\/klan, masyarakat, pasar, dan negara. Kajian Cepat ini berupaya untuk memahami bagaimana gender dan dimensi sosial lainnya membentuk tata kelola dan hak atas lahan dan sumber daya alam serta hubungannya dengan ketahanan pangan dan perlindungan lingkungan di daerah pedalaman atau konservasi mangrove di daerah pesisir di Indonesia. Penilaian ini berfokus pada tata kelola lahan dan sumber daya alam di Area Penggunaan Lain (APL).<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-9438a99 elementor-widget elementor-widget-html\" data-id=\"9438a99\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"html.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<object data=\"https:\/\/landesaindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Laporan-Kajian-Awal-Kualitatif.pdf\" height=\"800px\">\r\n<embed src=\"https:\/\/landesaindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Laporan-Kajian-Awal-Kualitatif.pdf\" \/>\r\n<\/object>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b55d164 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"b55d164\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<h2 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Keterlibatan Masyarakat &amp; Pemerintah<\/h2>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tata kelola akses, kontrol, dan kepemilikan lahan dipengaruhi oleh hubungan \nsosial, termasuk relasi gender. Hal ini menyiratkan bahwa perspektif gender dan inklusi sosial (GESI) sangat penting dalam memahami hak dan pengelolaan lahan dan sumber \ndaya alam. Di Indonesia, gender dan relasi sosial lainnya (misalnya etnisitas, kelas sosial \nekonomi, kelas sosial, usia, agama, status perkawinan) beroperasi dalam tata kelola lahan \ndan sumber daya alam yang berbeda namun saling terkait, mulai dari keluarga inti, \nkeluarga besar\/klan, masyarakat, pasar, dan negara. Kajian Cepat ini berupaya untuk \nmemahami bagaimana gender dan dimensi sosial lainnya membentuk tata kelola dan hak \natas lahan dan sumber daya alam serta hubungannya dengan ketahanan pangan dan \nperlindungan lingkungan di daerah pedalaman atau konservasi mangrove di daerah \npesisir di Indonesia. Penilaian ini berfokus pada tata kelola lahan dan sumber daya alam \ndi Area Penggunaan Lain (APL).<\/p>","protected":false},"author":6,"featured_media":39358,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[235],"tags":[],"class_list":["post-39356","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gender-equality-social-inclusion"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39356","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39356"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39356\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39367,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39356\/revisions\/39367"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39358"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39356"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39356"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/landesaindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39356"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}